Skip to main content
Efek Intervensi Critical Thinking

Efek Intervensi Critical Thinking

Studi yang dilakukan oleh peneliti dari Nanyang Technological University (NTU), Singapura, pada awal tahun 2026 mengungkapkan bahwa intervensi berpikir kritis secara signifikan mampu meningkatkan kreativitas mahasiswa dan mengurangi ketergantungan pasif saat menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) Generatif. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Computers & Education ini melibatkan 226 mahasiswa sarjana dan menyoroti pentingnya strategi instruksional dalam memandu kolaborasi antara manusia dan AI untuk pemecahan masalah yang lebih efektif.

Dalam penelitian ini, tim yang dipimpin oleh Chenyu Hou dan Gaoxia Zhu membagi mahasiswa ke dalam dua kelompok: kelompok eksperimen yang menerima intervensi berpikir kritis, dan kelompok pembanding yang diizinkan menggunakan AI secara bebas tanpa panduan khusus. Kelompok eksperimen diberikan tiga strategi utama, yaitu instruksi otentik untuk mengidentifikasi bias AI, dialog terstruktur melalui bermain peran (role-play), dan pendampingan oleh tutor sebaya berbasis AI (AI-based peer tutor).

Hasil penelitian menunjukkan temuan penting mengenai perilaku penggunaan teknologi. Mahasiswa yang mendapatkan intervensi berpikir kritis terbukti mengurangi perilaku "penggunaan tanpa berpikir" (thoughtless use), yaitu kecenderungan untuk langsung menyalin dan menempel hasil keluaran AI tanpa evaluasi. Sebaliknya, mereka menunjukkan tingkat orisinalitas dan kepadatan ide yang lebih tinggi dalam laporan akhir mereka dibandingkan dengan kelompok yang tidak menerima intervensi.

"Temuan ini menunjukkan bahwa cara mahasiswa menggunakan AI adalah hal yang krusial, terutama ketika hampir mustahil untuk mengontrol apakah mereka menggunakannya atau tidak," tulis para peneliti dalam paper tersebut. Studi ini menegaskan bahwa penggunaan AI yang disertai dengan keterlibatan kognitif manusia menghasilkan solusi yang lebih kreatif daripada sekadar menerima hasil AI secara pasif.

Menariknya, meskipun intervensi tersebut berhasil mengubah perilaku penggunaan AI dan meningkatkan kreativitas, survei mandiri menunjukkan tidak ada peningkatan signifikan dalam persepsi mahasiswa terhadap kemampuan berpikir kritis mereka sendiri. Para peneliti menduga hal ini disebabkan oleh durasi intervensi yang singkat (satu sesi selama 2 jam), yang mungkin belum cukup untuk mengubah persepsi diri mahasiswa meskipun perilaku mereka telah berubah menjadi lebih hati-hati dan reflektif.

Di sisi lain, kelompok pembanding yang menggunakan AI tanpa batasan justru mencetak skor lebih tinggi pada aspek evaluasi solusi. Hal ini mengindikasikan bahwa AI Generatif sangat efektif dalam membantu menyusun argumen yang koheren dan terperinci, namun sering kali menghasilkan ide yang dapat diprediksi dan kurang orisinal jika tidak ditantang oleh pemikiran kritis manusia.

Studi ini memberikan rekomendasi bagi institusi pendidikan tinggi untuk tidak sekadar melarang atau membebaskan penggunaan AI, melainkan merancang kurikulum yang memfasilitasi keterlibatan kritis. Para peneliti menyarankan pendidik untuk membimbing mahasiswa agar mampu mempertanyakan, menyempurnakan, dan mengontekstualisasikan ide-ide yang dihasilkan oleh AI, guna memastikan teknologi tersebut berfungsi sebagai mitra kolaboratif, bukan pengganti intelektual.

Source: https://doi.org/10.1016/j.compedu.2026.105576

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.