"Jika Saya Gagal, Kamu Juga Harus Jatuh!": Mengungkap Rahasia Gelap Mengapa Orang Pintar di Kampus Saling Menjatuhkan
Pernahkah Anda merasa bahwa saat Anda selangkah lagi menuju kesuksesan, promosi, atau inovasi cemerlang, tiba-tiba ada rekan kerja yang entah bagaimana berusaha menarik Anda kembali ke bawah? Di dunia akademik yang dipenuhi para pemikir cerdas, fenomena ini ternyata hidup subur. Dikenal dengan sebutan "Mentalitas Kepiting" (diambil dari perilaku kepiting di dalam ember yang selalu menarik kembali temannya yang hampir berhasil memanjat keluar) sifat beracun ini sering kali hanya dianggap sebagai masalah iri hati personal. Namun, sebuah riset terbaru yang dipublikasikan oleh Nilüfer Yörük Karakılıç membongkar fakta yang mengejutkan: saling sikut ini bukanlah sekadar sifat buruk bawaan oknum tertentu, melainkan secara aktif "diciptakan" dan dipelihara oleh sistem atau budaya tempat kerja itu sendiri. Singkatnya, bukan cuma kepitingnya yang bermasalah, tapi bentuk embernya yang memaksa mereka saling capit.
Studi ini menemukan bahwa aturan tidak tertulis di tempat kerja adalah dalang utama di balik perilaku sabotase ini. Bayangkan kantor Anda seperti sebuah permainan papan. Penelitian ini membuktikan bahwa jika aturan mainnya terlalu kaku (budaya hierarki yang dipenuhi birokrasi) atau jika kompetisinya terlalu kejam (budaya pasar di mana target dan kemenangan adalah segalanya), orang-orang akan mulai merasa terancam secara emosional. Kondisi inilah yang memicu tindakan nyata untuk saling menjatuhkan rekan sejawat. Ironisnya, bahkan budaya "klan" atau lingkungan kerja yang berkedok kekeluargaan dan kelompok (geng) di kantor, terbukti secara psikologis menanamkan pola pikir kognitif yang beracun. Seseorang akan berpikir, "Kita ini setara, jika saya tidak bisa naik jabatan, kamu juga tidak boleh melebihiku."
Bagaimana ilmuwan bisa membongkar rahasia gelap institusi ini? Alih-alih menggunakan istilah matematika yang rumit, peneliti melakukan semacam "pemeriksaan kesehatan budaya dan psikologis" secara mendalam. Mereka mewawancarai secara tertulis hampir 300 akademisi—mulai dari asisten peneliti muda yang baru merintis karier hingga profesor senior—di Universitas Afyon Kocatepe, Turki. Peneliti mengukur bagaimana para dosen ini menilai suasana kampus mereka dan mencocokkannya dengan seberapa sering mereka melihat atau mengalami sabotase, kebencian, dan persaingan tidak sehat. Hasil kalkulasi data tersebut menunjukkan pola sebab-akibat yang sangat jelas. Menariknya, riset ini juga memvalidasi bahwa "gigitan" kepiting ini dirasakan secara berbeda tergantung pada jenis kelamin, status pernikahan, hingga jabatan. Pegawai junior atau kelompok minoritas sering kali merasakan tekanan yang jauh lebih berat dari sistem yang menahan mereka di dasar ember dibandingkan mereka yang sudah berada di posisi atas.
Temuan ini membunyikan alarm peringatan yang keras bagi masyarakat luas, tidak hanya di institusi pendidikan tetapi di sektor korporat mana pun. Selama ini, banyak perusahaan yang hanya menyalahkan atau memecat "karyawan bermasalah" (sang kepiting) tanpa pernah memperbaiki budaya perusahaannya (sang ember). Jika budaya kerja dibiarkan tidak adil, mentoleransi perundungan terselubung (mobbing), dan pelit apresiasi, maka mustahil inovasi dan kolaborasi bisa tercipta. Dampak nyatanya di masyarakat adalah mandeknya kemajuan, stres kerja yang berujung pada depresi, dan hilangnya talenta-talenta terbaik karena mereka memilih resign. Solusi dari sains sangat jelas: para pemimpin harus menghancurkan "ember" hierarki beracun tersebut dengan menciptakan pembagian apresiasi yang adil, komunikasi yang transparan, dan hukuman tegas bagi penyabotase. Karena institusi yang hebat adalah institusi yang menyediakan tangga agar semua orang bisa memanjat naik bersama, bukan membiarkan mereka saling menginjak di ruang yang sempit.